Klik gambar untuk ukuran yang lebih besar. Aku baru buat gambar itu setelah nomor urut capres dan cawapres ditentukan oleh KPU. Di situ aku pakai huruf Jawi. Tapi ada sedikit perubahan. Karena komputerku mungkin sedang error, maka huruf yang mestinya pakai huruf “kaf” terpaksa diganti “qaf”, seperti pada tulisan “wakil”, “sukarno”, dan “kalla”. Seakan-akan terbaca “waqil”, “suqarno”, dan “qalla”. Harap maklum.
Yah, tuan-tuan dan puan-puan semua tahu sendiri, sejenak lagi kita nak pilih presiden dan wakil presiden kita. Jadi tak salah kalau kubuat gambar ini. Sekadar mengikuti tren aja. Kalau pilpres selesai, paling-paling aku hapus aja gambar ni.
Mari bersama menyambut pilpres 2009 nanti dengan hati yang tenang, dan, JANGAN GOLPUT!!!!
Inilah suratnya :
“너무 많은 사람들에게 신세를 졌다. 나로 말미암아 여러 사람이 받은 고통이 너무 크다. 앞으로 받을 고통도 헤아릴 수도 없다. 여생도 남에게 짐이 될 일밖에 없다. 건강이 좋지 않아서 아무것도 할 수가 없다. 책을 읽을 수도 글을 쓸 수도 없다. 너무 슬퍼하지 마라. 삶과 죽음이 모두 한 조각이 아니겠는가. 미안해 하지 마라, 누구도 원망하지 마라, 운명이다. 화장해라. 그리고 집 가까운 곳에 아주 작은 비석 하나만 남겨라. 오래된 생각이다.”
Transliterasi :
“Neomu maneun saramdeulege shinsereul jeotta. Naro malmiama yeoreo sarami bateun gotongi neomu keuda. Apeuro bateul gotongdo hearil sudo eoptta. Yeosaengdo namege jimi duil ilbakke optta. Geongangi joji anaseo amugeotto hal suga eoptta. Chaekeul ilkeul sudo geureul sseul sudo eoptta. Neomu seulpeohaji mara. Salgwa jukeumi modu han jogaki anigenneunga. Mianhae haji mara, nugudo wonmanghaji mara, unmyeongida. Hwajanghaera. Geurigo jip gakkaun gote aju jakeun biseok hanaman namgyera. Oraeduin saenggakida.”
Artinya :
“Aku telah berhutang terlalu banyak kepada rakyat. Beban yang kubuat kepada mereka terlalu besar. Tak terhitung banyaknya sakit yang kuderita. Seluruh hidupku bisa jadi merupakan beban kepada sesama. Aku tak boleh melakukan apa-apa karena penyakitku ini. Aku tak boleh membaca lagi menulis. Janganlah sedih. Bukankah hidup dan mati ialah bagian dari alam? Janganlah pula menyesal. Janganlah merasa kecewa pada siapapun. Inilah takdir. Bakarlah jasadku. Dan tinggalkanlah sebuah nisan kecil di dekat rumahku. Aku sudah memikirkannya untuk beberapa waktu”.

Berita duka datang dari Korea. Mantan presiden Korea Selatan, Roh Moo-Hyun, yang baru saja digantikan oleh Lee Myung-Bak, telah pergi untuk selama-lamanya. Mendiang tewas diduga karena bunuh diri. Mendiang terjatuh dari sebuah batu karang setinggi 30 meter di rumahnya di daerah Yangsan, Provinsi Gyeongsangnam. Ketika dibawa ke rumah sakit di Busan, kota terbesar kedua di Korea Selatan berjarak 40 km dari rumahnya, mendiang sudah dalam keadaan tak bernyawa.
Dugaan mendiang bunuh diri semakin kuat, mengingat akhir-akhir ini mendiang diduga telah melakukan rasuah atau korupsi sebesar US$6.000.000 dari seorang pengusaha bernama Park Yeong-Cha. Kasus rasuah ini juga melibatkan isteri dan anaknya. Bagi mendiang, kasus rasuah yang dialami menimbulkan beban besar bagi masyarakat Korea Selatan. Karena itulah, menurutnya, mendiang pantas untuk bunuh diri.
Warga Korea bersedih. Bagi kebanyakan masyarakat Korea Selatan, mendiang adalah orang yang patut dijadikan suri tauladan. Mendiang memang sangat banyak membuat kebijakan pembaharuan di Korea, seperti pendekatan terhadap Korea Utara, pengiriman tentara Korea ke Iraq, dan lainnya. Mendiang telah merencanakan pemindahan ibukota dari Seoul ke Chungcheong, tapi tak jadi (sama macam Indonesia, dua kali gagal pindah dari Jakarta). Bahkan, sebagian orang Korea menganggap tuduhan rasuah yang dikenakan kepadanya adalah fitnah. Kini, di bawah pimpinan Lee Myung-Bak, situasi politik di Korea makin tak menentu. Orang Korea banyak yang tak senang dengan beliau. Lee Myung-Bak sangat berkebalikan dengan mendiang Roh Moo-Hyun, karena Lee Myung-Bak sangat keras terhadap Korea Utara, tak seperti presiden yang terdahulu yang mengusahakan perdamaian terhadap Korea Utara. Dan Lee Myung-Bak pula yang dituntut untuk bertanggung jawap atas kematian Roh Moo-Hyun.
Kita turut bersedih. Namun, ada pelajaran yang dapat kita petik dari sini. Karena kasus rasuah, mendiang rela bunuh diri. Hal yang jarang terjadi di Indonesia. Di Indonesia, pelaku rasuah tak punya urat malu. Mereka bahkan membanggakan diri dengan uang haram dari negara itu. Sudah berapa kali kasus rasuah terjadi di Indonesia, belum ada pelakunya yang bunuh diri.
Akhirnya, kalau Rasulullah SAW berhadist “Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri China”, maka untuk kasus rasuah, belajarlah dari Korea…
Ketika orang lain beramai-ramai datang ke Jakarta dari kampung halaman untuk mencari uang, maka aku sebaliknya. Aku nak tinggallkan Jakarta ini. Aku dari dulu dah berdoa agar aku dapat kerja tidak di Jakarta. Kalau tidak di daerah, ya di luar negeri, seperti Qatar itu. Karena itu pula, ketika aku diterima di UI dan ITB, aku lebih memilih ITB. Selain mutunya lebih baik, Bandung adalah “kota mahasiswa”. Iklimnya pas. Anak-anaknya kreatif. Udaranya masih lumayan sejuk. Jakarta? Jakarta sudah terlalu banyak masalah. Traffic jam di mana-mana, udara panas dan kotor, banyak terjadi demonstrasi, banyak pedagang kaki lima, dan sebagainya. Rencana nak bangun monorel tak jadi-jadi. TransJakarta pun sarat masalah. Jakarta bukan kotanya mahasiswa. Jakarta cukup jadi ibukota negara.
Memang sampai saat ini aku tak pernah jadi warga Jakarta, karena selama 13 tahun aku tinggal di sebuah penyangganya, yaitu Kota Bekasi. Satu tahun di Balikpapan, satu tahun di Medan, dan satu tahun di Palembang. Walaupun begitu, bukan bermaksud sombong, aku hafal nama-nama daerah di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Bogor? Terlalu luas. Tapi, terlalu lama tinggal di Jakarta pun membuatku jenuh. Ketika tinggal di Balikpapan, Medan, dan Palembang, hidupku terasa nyaman. Apalagi Balikpapan. Kedisiplinannya setara dengan Singapura, dan lebih dari orang Jakarta.
Jakarta terlalu sarat masalah juga karena pemerintahan Orde Baru yang dirintis Allahyarham Presiden Soeharto. Beliau mementingkan sentralisasi. Semua urusan dilimpahkan ke Jakarta. Akibatnya pun cukup fatal. Ada rencana untuk memindahkan ibukota. Zaman Soekarno, ibukota nak pindah ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tapi tak jadi. Zaman Soeharto, ibukota nak pindah ke sebuah desa di Kabupaten Bogor. Ini pun tak jadi. Krisis terlalu cepat datang. Rencana nak bangun subway dulu di Jakarta pun terbengkalai. Di Asia Tenggara, Jakarta termasuk tertinggal. Singapura, KL, Manila, dan Bangkok, sudah punya subway lebih dulu.
Itu pula yang membuatku ingin hidup di luar Jakarta. Setelah Orde Baru runtuh, daerah mulai berkembang, bahkan kalau boleh kubilang lebih fantastis dari Jakarta. Masalah lalu lintas, Balikpapan dan Pekanbaru lebih disiplin. Kebersihan pula. Airport? Makassar dan Surabaya punya yang lebih bagus dari kita. Apalagi kini turis asing bisa langsung datang ke Bali, tak lewat Jakarta dulu. Jakarta bukanlah tujuan utama para turis. Jakarta sudah terlalu kacau. Untuk orang-orang yang nak urbanisasi, gugurkanlah niat itu. Daripada ke Jakarta, mencari nafkah di Bandung atau Yogyakarta sepertinya lebih baik. Tinggalkanlah Jakarta. Biarlah ia terlarut dalam masalahnya sendiri…

Aku harus jujur bahwa sampai kini aku belum pernah merasakan gempa bumi. Bencana alam yang pernah kurasakan adalah banjir. Itupun sebenarnya bukan bencana alam, karena manusia juga yang salah. Aku terus bertanya, macam mana rasanya gempa bumi. Walaupun tidak ada satupun manusia yang ingin tertimpa bencana (gila apa orang tu…), tapi aku nak rasakan gempa sedikit aja, paling besar 3 skala Richter.
Apa yang menyebabkan gempa bumi? Sebelum ke penjelasan ilmiah, simaklah hikayat ini. Menurut hikayat orang Batak, bumi berada di atas punggung seekor naga yang bernama Naga Padoha. Nah, jika di bumi terjadi peperangan yang menyebabkan pertumpahan darah, darah akan meresap ke bawah bumi (dalam kasus ini, bumi dianggap datar, tak bulat seperti yang sebenar) dan membuat Naga Padoha tidak leluasa. Akhirnya ia akan bergerak ke sana ke mari, dan bumi di atasnya bergoyang-goyang. Itulah penyebab gempa bumi. Untuk menghentikannya, orang harus berucap, “Nunga, Ompung!” (Sudah, Nenek!). Hikayat semacam ini ada juga di Nias, tapi di Nias nama naganya adalah Dao Zanaya Tano Sisagoro, dan jika gempa terjadi orang Nias akan berucap, “Biha, Tua!”. Artinya sama.
Secara ilmiah, boleh dikatakan bahwa gempa terjadi akibat pergerakan lempeng-lempeng yang ada di dalam bumi. Bumi kita memang selalu bergerak, tetapi bila pergerakan itu tak dapat ditahan oleh lempengan yang ada, maka gempa bumi pun terjadi. Jadi, lempeng-lempeng itu memang terpisah seberapa jarak, dan diibaratkan mengapung seperti salju, sehingga mudah bertabrakan.
Gempa bumi paling sering terjadi antara patahan (perbatasan atau sempadan) satu lempeng benua dengan lempeng yang lain. Contoh paling nyata adalah Indonesia. Indonesia terletak di atas patahan benua Eurasia dan benua Australia. Dan patahan ini diperkirakan berada di bagian barat Sumatera, selatan Jawa dan Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan utara Papua. Tak heran kalau di wilayah inilah paling sering terjadi gempa, seperti yang pernah terjadi di Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Yogya, dan Nabire. Negara yang bernasib sama seperti kita adalah Jepang.
Makanya di daerah-daerah tadi kita banyak temukan rumah-rumah kayu. Ternyata tidak selamanya rumah berdinding kayu identik dengan kemiskinan, karena rumah-rumah kayu inilah yang justru aman dari ancaman gempa. Apa pasal? Kayu yang satu dan kayu yang lainnya dipasang dengan pasak yang kuat. Kalau rumah berdinding batu bata, setiap ada gempa ia akan runtuh dengan mudah, karena bata yang satu dan bata yang lain hanya disambung semen yang mudah lepas. Aku bagi saran, sebaiknya bangunlah rumah kayu di daerah tersebut, agar aman dari gempa. Rumah berdinding kayu tak harus jelek, karena kayu bisa dipelitur dan menjadi indah.
Kita memang bersyukur tinggal di Indonesia. Tapi tetap harus waspada juga tinggal di Indonesia, yang telah dikenal orang sebagai ring of fire. Banyak cara bisa dilakukan, seperti pembangunan rumah kayu, instalasi alat detektor gempa, sosialisasi, simulasi pengamanan, dan lainnya. Yang terpenting, banyak berdoa dan beramal…